Beranda » Megathrust 2065: Sebuah Dramaturgantara Memori dan Tragedi

Megathrust 2065: Sebuah Dramaturgantara Memori dan Tragedi

Membaca naskah drama “Megathrust 2065: Pusara Segara” karya Nano Suharno, mengajak kita untuk menyelam ke dalam dunia yang ganjil dan asing.

Saya merasa naskah ini merupakan sebuah karya yang mengajak kita menjelajahi tentang peristiwa distopia pasca-apokaliptik, eksistensialisme, trauma, dan harapan di tengah kehancuran dunia dengan seksama dan mendalam.

Tanpa kita sadari naskah ini, seolah mengajak kita untuk menelusuri kembali Novel tahun 1984 Karya George Orwell atau Novel “Brave New World” Karya Aldous Huxley novel distopia klasik yang menggambarkan masa depan suram, namun melalui metode kontrol sosial berbeda.

Dalam karya ini Orwell menyoroti ketakutan akan rezim totaliter yang menyiksa melalui rasa sakit dan pengawasan ketat. Sementara Huxley menggambarkan dunia yang dikendalikan teknologi, kesenangan, dan hedonisme tanpa jiwa. Nah, di naskah ini juga demikian.

Nano juga membicarakan bencana lingkungan yang mengubah pola semesta berjalan. Tetapi yang menarik dalam naskah ini nampaknya Nano menekankan pada “lingkaran hidup yang penuh perjuangan bahkan setelah mati”, memberikan akhir yang terbuka namun dipenuhi rasa bahagia yang melankolis.

Simakan Lakon (Dramatic Reading) “Megathrust 2065: Pusara Segara”, karya penulis dan sutradara Nano Suharno digelar di Pura Agung Giri Natha, Semarang, Selasa, 10 Maret 2026.

Hal ini diperkuat dengan pilihan latar peristiwa tahun 2089, dunia telah tenggelam akibat bencana “Megathrust” yang terjadi tahun 2065. Suasana yang dibangun sangat sunyi, amis, dan mencekam, dimana sisa-sisa peradaban hanya berupa puncak bangunan tinggi yang mencuat dari laut.

Apalagi dalam naskah ini karakter tokoh dikabarkan dengan tidak bercelah, pemilihan nama dan karakter tokoh sangat mendukung peristiwa dengan pilihan isu yang sedang dibangaun. Misal tokoh Baruna, di naskah ini Baruna merupakan prototipe manusia baru yang lahir saat bumi sudah menjadi lautan.

Ia kuat secara fisik namun “kedodoran” secara mental dan jiwa karena tumbuh dalam isolasi dan dogma. Ia terjebak antara identitas yang dipaksakan sebagai “Dewa Laut” dan realitasnya sebagai penyintas yang kesepian.

Pengabaran Sebeh Latif juga sangat mewakili generasi lama yang terpelajar namun hancur secara mental oleh bencana. Ia menggunakan mitos dan ritual (seperti bunga dan lagu “Bom Nuklir”) untuk memberi makna pada hidup yang absurd.

Karakternya hadir sebagai bayang-bayang (spirit/puppet) bahkan setelah ia mati. Tokoh Kadita juga tidak kalah menarik. Tokoh yang diploting sebagai pembawa perubahan dan perspektif dunia luar. Ia memiliki memori tentang daratan (nasi, kelapa, tanah kering) yang tidak dimiliki Baruna Kadita membawa elemen konflik politik melalui kisahnya tentang “Kota Terapung” dan rezim militer yang represif.

Saya mengakui, sebagai dramaturg, Nano sangat berhati-hati dalam membangun estetika artistik panggungnya. Karena tidak mudah memilih simbol-simbol estetik dari penggambaran realita eksistensialisme yang tumbuh dalam absurditas.

Hal ini terlihat jelas ketika Nano memutuskan menggunakan puppet untuk manifestasi spirit Sebeh Latif dan kembaran Baruna dalam mimpi. Keputusan ini adalah pilihan artistik yang cerdas untuk menggambarkan jarak antara realitas dan memori/trauma.

Jadi, Secara keseluruhan, Megathrust 2065 adalah naskah yang sangat kuat dalam membangun atmosfer (world-building) dan berhasil menyentuh sisi psikologis penyintas yang kehilangan pegangan realitas.

Sebagai seorang yang sebenarnya tidak tertarik pada bagaimana nanti peristiwa panggung naskah ini terjadi, karena bagi saya sebagai dramaturg, Nano akan mengawal dan menggarap peristiwa panggungnya dengan sangat ketat.

Tetapi, saya sangat menunggu bagaimana diskusi terjadi pasca peristiwa panggungnya berlangsung, sehingga menciptakan realita panggung kedua yang luas (Baca panggung kedua Afrizal Malna). Karena, bagi saya kesuksesan pertunjukan teater tidak lagi dilihat dari bagaimana reaksi publik pada saat pertunjukkan berlangsung, namun bagaimana reaksi publik pasca peristiwa panggung itu berlangsung.

Sehingga, peristiwa teater (pementasan drama) bisa kita ibaratkan sebagai cermin, yang digunakan oleh publik untuk mengadakan refleksi terhadap mereka sendiri. Dengan ini, saya merasa bahwa panggung ini layak untuk dinikmati.

Catatan pembaca
Yayan Adiyanto, Pegiat Teater Banyuwangi

Forum Senin Legi

Forum Senin Legi

Forum Percaturan Seni

Kembali ke atas